Harga bebek tidak sebanding dengan sepasang tanganmu nak!!!

Hari telah sore…..

dengan langkah terburu2 si EMON (bukan nama sebenarnya) masuk kelas dan berkemas-kemas

maklum, sekolahnya memiliki jadwal yang cukup padat diluar pelajaran reguler

“kok buru-buru MON?” sapa seorang guru…

“iya bu…masih ada acara nanti sore dirumah!!” jawab EMON sembari setengah berlari meninggalkan kelas

sesampai di parkiran motor bebek kesayangan di start….tak berapa lama motor pun telah melaju meninggalkan sekolah

sebenarnya EMON baru kelas 1 SMA umurnya pun belum genap 17tahun….karna rumahnya jauh, akhirnya orang tuanya mengalah

membelikan si EMON sebuah bebek….maklum, anak sekarang ingin seperti teman2 yang lain tanpa memikirkan untung rugi bagi diri sendiri dan keluarga……

Mungkin hari itu hari apes si EMON…ketika sampai pertigaan motornya menabrak bapak tua….tiba2 saja bapak itu melintas tanpa menoleh..

akibatnya cukup fatal bagi bapak tua dan si EMON….tangannya patah dan mengalami gegar otak cukup serius…meski helm SNI abal2 telah dipakainya….

ketika sang ibu ditelepon rasa sedih tak dapat disembunyikan lagi…..ada berbagai hal yang berkecamuk dalam hatinya….

rasanya menyesal telah membelikan sebuah mesin pembunuh bagi buah hatinya…..rasanya pilu melihat anaknya menderita…rasanya getir ketika melihat buah hatinya tergolek diam di pembaringan……..

“kenapa dulu membelikan motor…padahal EMON belum cukup umur….”

“kenapa dulu aku loloskan permintaanya…padahal jalanan sangat kejam…..”

“menyesal rasanya..karna harga bebek tak sebanding dengan sepasang tangan si EMON…”

###cerita ini kisah nyata…terjadi pada tanggal 13/10/11 jam 16.15…….####

semoga EMON segera sembuh…..ada sebuah pelajaran berharga….bahwa jalanan adalah tempat bagi orang dewasa…bukan anak2 yang baru belajar berkendara…..anak2 kebanyakan masih emosional dijalan….padahal jika sampai terjadi kecelakaan…biaya rumah sakit tidaklah murah….jika terjadi cacat juga merupakan resiko yang harus disandang seumur hidup!!”

sebagai orang tua kadang juga lalai…kadang merasa bangga bisa membekali anaknya yang masih dibawah umur dengan sebuah bebek!!…sayang harga sebuah bebek tidaklah seberapa jika harus ditukar dengan sepasang tangan ataupun nyawa……….

34 thoughts on “Harga bebek tidak sebanding dengan sepasang tanganmu nak!!!

  1. sebaiknya memang tidak dibelikan dulu mas bro, kalaupun terpaksa ya, ortunya jgn lelah mengingatkan agar selalu berhati hati di jalan, dan sebaiknya kalau di jalan lbh baik selalu mengalah. toh kalaupun mengalah pd pengguna jln yg lain kan cm selisih brp menit. tp yg pasti segala sesuatu ada hikmahnya dan semoga lekas sembuh serta keluarga diberi ketabahan dan kesabaran.

  2. segala sesuatu memang beresiko…ibarat kita belikan “pisau” bisa buat memasak..bisa buat kejahatan… jadi kasih tau cara memakai ‘pisau’ yang benar…trus piye jal:mrgreen:

  3. waa berarti Bapak ku dulu Nggak Sayang sama aku yaa,, mosok mlebu semea langsung tukokne Rx-Z seken hand.. Padahal umurku juga baru 16 tahun,, alhamdulillah slamet nganti tuwo ngene tanpo ciri.. Wah kepriye tho Bapak kii #abaikan saja#😀😀

    PISS..

  4. Umur bukan patokan, patokannya adalah kedewasaan… Banyak jg pengguna jalan yg sudah berumur tp belum dewasa dalam berkendara… Membelikan sepeda motor anak harus disertai bimbingan secara kontinyu oleh orang tua ttg tata tertib berlalu lintas dan etika di jalan raya… Dr postingan diatas ada pelajaran yg bagus buat ane dan semua yg membacanya..

  5. menurut saya, ada baiknya angka minimal dibolehkannya seseorang mengendarai motor dinaikkan jadi 18 tahun, biar lebih matang…..

    tapi ttep juga sih, ada baik atau buruknya seandainya diaplikasikan:/

  6. fakta :

    Di Yogyakarta (dsk), setiap pagi pada jam-2 berangkat sekolah, banyak sekali sepeda motor yang dikendarai oleh anak-2 sekolah. Terlihat dari pakaian seragam yang dikenakan, ada yang biru putih (artinya SMP), ada yang abu-2 putih (artinya setingkat SMA/SMK). Berapa usia mereka ? Apakah sudah boleh memiliki SIM C ? Berapa persen di antara mereka yang sudah punya SIM C? Berapa persen yang punya SIM dengan cara yang legal ?

    Sebagian ortu, terpaksa menempuh cara yg ilegal utk mendapatkan SIM bagi anaknya (yg belum cukup umur). Sebagian lagi membiarkan anaknya tanpa SIM tetapi membekali uang suap. Sebagian lagi menyarankan anaknya utk mencari jalur aman dari razia.

    Apakah orang tua demikian itu ‘brengsek’ ? Apakah ada keterpaksaan di balik keputusan tersebut? Apa ada pertimbangan lain ?

    Matur-nuwun, kepareng, monggo direnungkan dulu.

    Salam damai🙂

    • setiap orang punya pilihan…mau cari sim pake nyogok, ngumpet2 cari jalur tikus, repot2 nganter dan jemput….itu semua pilihan orang tua…anak kan gak punya duit untuk menebus baik SIM ataupun motornya….
      yang perlu disadari bahwa sebagian orang tua merasa bahagia bisa membelikan anak mereka motor buat sekolah…sampe rela jual sawah….sebagian orang tua bangga jika bisa membelikan anak mereka motor, meski dengan kredit dan cicilan yang mencekik…..tapi dibalik kebahagiaan dan kebanggaan tidak sadar…kalo jalanan bukan tempat yang baik untuk sekedar coba2…………….
      just info…..minggu depan akan diadakan razia kepemilikan SIM…jika belum punya SIM atau masih dibawah umur memiliki SIM dilarang bawa motor kesekolah dan tidak disarankan mengendarai motor trus dititipkan diluar sekolah….karena banyak siswa yang mengalami kecelakaan saat pulang/pergi kesekolah memakai motor….tiap tahun prosentasenya meningkat

      • Bu Guru yang baik hati,

        Saya mensinyalir sebagian orangtua melakukan hal itu karena terpaksa, dan itu merupakan pilihan terakhir. Misalnya nih ya Bu, ada keluarga yang tinggal di pinggiran kota, jauh dari alat transportasi masal, seandainya ada juga sangat jarang, lalu kedua orangtuanya bekerja (yg tidak memungkinkan mengantar anak). Kemudian penghasilan tidak memungkinkan beli mobil dan punya sopir, hanya cukup utk kredit sepeda motor. Sementara kegiatan sang anak (katakanlah SMA) sudah sangat padat juga.

        Maksud saya adalah, coba mari kita sama-sama cari akar permasalahannya, jangan-2 karena moda transportasi masal yang tidak memadai. Atau mungkin ada sebab lain.

        Saya sungguh cemas melihat ‘amat sangat ramainya’ sepeda motor di Yogyakarta (dsk), dan pertumbuhan sepedamotor yang fantastis. Dan pasti juga banyaknya para pengendara yang tidak memenuhi syarat. Serta kejadian kecelakaan spt yang ibu ceritakan, juga tidak jarang terjadi, saya betul-2 miris dan prihatin.

        Dan maaf Bu, saya tidak berprasangka-buruk, bahwa ortu merasa bangga bisa membelikan sepeda motor utk anaknya.

        Saya yakin kita (dan semua pembaca yang lain) juga punya keprihatinan yang sama, utk itu alangkah baiknya jika kita bisa berdiskusi utk mencari jalan keluarnya.

        Bukan begitu Bu?

        maturnuwun, kepareng.

        Salam damai,

    • jaman memang sudah berubah….dulu saya sekolah di SMA unggulan juga sekarang ex..SMA saya juga RSBI…masuk jam 06.25 dan pulang jan 14.30…jika tidak ada les tambahan….jika ada les tambahan waktu pulang sekolah mundur jadi jam 17.00…..jarak dari rumah 15km….saya berangkat jam 05.30 dan sampe rumah jam 18.00 dan setiap hari saya bersepeda meskipun kadang kehujanan….saya juga yakin…anak2 seperti yang saya lakukan ini tidaklah banyak….meskipun orang tua juga membelikan saya motor dikala itu….malah kadang naik bis….padahal bis terakir menuju rumah adalah jam 17.15…..tidak ada hand phone jika sampe ketinggalan bis, yah itu sekedar cerita pengalaman masa lalu…tapi ya gak masalah…karna hidup itu pilihan…tidak ada alasan pembenaran atas suatu hal yang salah kecuali penyesalan…terima kasih

  7. miris dah.. seharusnya dengan SIM lah senjata pengontrol siapa aj yg berhak menyandang gelar biker terakreditasi. syg manfaat SIM skrg tlah menjadi sebuah legenda..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s